Temukan Asuransi Anda Sekarang

Perlukah Orang Tua Menjadi Ahli Waris Asuransi Jiwa Anak?

perlukah orang tua menjadi ahli waris anak?

Kita tahu manfaat asuransi jiwa, yaitu untuk menjaga kesejahteraan hidup keluarga yang ditinggalkan jika kepala keluarga/pencari nafkah meninggal dunia. Jadi, ahli waris sudah pasti pasangan serta anak-anak. Tapi, apakah orang tua yang sudah lansia perlu menjadi ahli waris?

Untuk menjawab perlu tidaknya lansia menjadi ahli waris anaknya yang telah dewasa, mari kita simak 3 kisah nyata berikut ini. Untuk menjaga keamanan identitas, semua nama telah dirubah.

Kisah 1: Ayah Memiliki Asuransi Jiwa, Tapi Nenek Tidak Kebagian

Di masa pandemic COVID-19 ini, banyak sekali keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta. Salah satunya, yang terjadi pada keluarga Pak Ardi. Pak Ardi menikah dengan Ibu Lina, lalu memiliki 3 orang anak. Anak terbesar baru mulai kuliah semester pertama. Sebagai anak yang paling sukses dari saudara-saudaranya, Pak Ardi turut membiayai Ibunda tercinta, yang akan kita sebut sebagai sang Nenek.

Siapa saja yang harus menjadi ahli waris asuransi jiwa Anda? Temukan jawabannya disini

Selama bertahun-tahun, bisnis yang dibangun Pak Ardi semakin sukses. Beliau tidak lupa selalu membiayai istri, anak, serta Nenek. Pak Ardi juga merupakan pribadi yang sadar asuransi. Beliau sudah mempersiapkan asuransi jiwa yang cukup besar untuk anak istrinya, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika beliau berpulang duluan.

Tapi, siapa sangka usia beliau lebih pendek daripada sang Nenek? Wabah COVID-19 merenggut nyawa Pak Ardi. Asuransi jiwa yang cair pun sah sepenuhnya menjadi milik Ibu Lina dan ketiga anak mereka. Lantas, bagaimana nasib sang Nenek, yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidupnya pada Pak Ardi?

Kisah 2: Putri Tunggal Harapan Keluarga Meninggal, Orang Tua Tidak Berdaya

Dinda adalah putri kebanggaan Pak Agus dan Ibu Dewi. Keluarga mereka sangat sederhana secara finansial. Pak Agus dan Ibu Dewi mendapatkan penghasilan dari usaha makanan rumahan. Penghasilan mereka sebisa mungkin ditabung untuk menyekolahkan Dinda sampai ke perguruan tinggi. Terlebih lagi, Dinda merupakan anak satu-satunya karena kedua adiknya telah meninggal saat masih bayi.

Siapa saja yang harus menjadi ahli waris asuransi jiwa Anda? Temukan jawabannya disini

Akhirnya, Dinda berhasil menamatkan kuliah dan menjadi salah satu lulusan terbaik. Dinda juga berhasil mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Orang tuanya tentu sangat bangga. Sebagai anak yang penuh tanggung jawab, Dinda tidak melupakan jasa kedua orang tuanya. Ia rutin mengirimkan uang kepada orang tuanya, sehingga sangat membantu kehidupan Pak Agus dan Ibu Dewi, terutama setelah Pak Agus terkena penyakit rematik.

Siapa saja yang harus menjadi ahli waris asuransi jiwa Anda? Temukan jawabannya disini

Namun, nasib baik Dinda tidak bertahan lama. Gadis itu menjadi korban kecelakaan pesawat terbang yang menewaskan seluruh penumpangnya. Kedua orang tuanya sangat terpukul dengan kehilangan putri satu-satunya ini. Lebih dari itu, Pak Agus dan Ibu Dewi terancam hidup melarat, karena sebagian besar uang mereka digunakan untuk menyekolahkan Dinda, sehingga mereka tidak punya tabungan hari tua yang memadai.

Kisah 3: Putra Bungsu Koma, Ibu Kucurkan Dana Hari Tua

Ibu Wati dan Pak Rudi memiliki 2 korang putra. Pak Rudi bekerja sebagai karyawan swasta, dan memiliki penghasilan yang sangat memadai, sementara Ibu Wati bertugas mengurus rumah tangga. Kedua putra mereka tumbuh berkembang menjadi dewasa, dan sukses memiliki pekerjaan masing-masing. Pak Rudi terus bekerja sampai usia pensiun tiba. Ia dan Ibu Wati bahagia karena dapat pensiun dengan sejahtera, dan kedua anak mereka bisa mandiri secara finansial.

Siapa saja yang harus menjadi ahli waris asuransi jiwa Anda? Temukan jawabannya disini

Namun, masa pensiun tidak lama dinikmati Pak Rudi. Beliau meninggal akibat stroke. Ibu Wati dan kedua putranya sangat berduka. Namun, Pak Rudi sudah mempersiapkan semua hartanya untuk diwarisi oleh Ibu Wati, sehingga Ibu Wati dapat menikmati hari tua dengan dana yang cukup tanpa bergantung pada putra-putranya.

Sayangnya, Wisnu, putra bungsu pasangan tersebut, mengalami kecelakaan motor yang parah. Kecelakaan ini mengakibatkan Wisnu koma, dan harus dirawat di ICU selama cukup lama. Karena biaya pengobatan membengkak terlalu besar, limit asuransi kantor Wisnu tidak lagi cukup untuk biaya pengobatannya. BPJS juga tidak menanggung biaya ICU sebesar Rp 15 juta per hari tersebut. Ingin putranya mendapatkan perawatan terbaik, Ibu Wati tidak ragu merogoh tabungannya sendiri untuk membiayai Wisnu.

Siapa saja yang harus menjadi ahli waris asuransi jiwa Anda? Temukan jawabannya disini

Berbulan-bulan Wisnu koma, tabungan Ibu Wati semakin menipis. Akhirnya, Wisnu meninggal dunia. Ibu Wati sangat kehilangan putra bungsunya tersebut. Dengan tabungan yang tidak lagi cukup untuk hari tuanya, Ibu Wati terpaksa hidup sangat sederhana dan meminta penghasilan dari putra sulungnya. Sayangnya, ini cukup membebani putra sulungnya yang juga belum lama meniti karir dan ingin berinvestasi untuk masa depannya sendiri.

Siapa Saja yang Harus Jadi Ahli Waris Asuransi Jiwa Anda?

Pertimbangan: Siapa saja yang harus menjadi ahli waris asuransi jiwa Anda? Temukan jawabannya disini

Pertanyaan ini terutama penting bagi para pencari nafkah keluarga. Selain pasangan dan/atau anak, siapa lagi yang harus menjadi ahli waris Anda? Siakan Anda pertimbangkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Siapa saya yang keuangannya bergantung pada Anda?
  2. Jika Anda tidak ada, apa yang terjadi pada mereka?
  3. Jika Anda terkena sakit berkepanjangan atau membutuhkan biaya besar untuk berobat, siapa yang pasti akan mengucurkan dana membantu Anda?

Persiapan untuk Kisah Pertama

Untuk kisah pertama, Pak Ardi sudah cukup bijaksana dalam mempersiapkan asuransi jiwa untuk istri dan anak-anaknya. Namun, Pak Ardi kurang banyak mempertimbangkan berbagai skenario yang mungkin terjadi. Antara lain, anak belum tentu meninggal setelah orang tuanya.

Tidak hanya anak dan pasangan, tapi orang tua juga perlu menjadi ahli waris asuransi jiwa Anda. Mengapa demikian? Cek jawabannya disini

Ibunda Pak Ardi, sang Nenek, kehidupannya jelas bergantung pada Pak Ardi. Jika Pak Ardi mempersiapkan asuransi jiwa dengan sang Nenek sebagai ahli waris, pastinya keadaan si Nenek akan lebih terjamin.

Demi mencegah kisah pertama terjadi, persiapkan asuransi jiwa kepada semua orang yang Anda cintai, baik lebih muda maupun lebih tua daripada Anda. Jika Pak Ardi mempersiapkan asuransi jiwa untuk sang Nenek, dan Nenek meninggal sebelum Pak Ardi, maka Pak Ardi tinggal menukar nama ahli waris menjadi Ibu Lina dan anak-anak.

Persiapan untuk Kisah Kedua

Pada kisah kedua yang tidak kalah tragis, jika Dinda sudah mempersiapkan asuransi jiwa dengan ahli waris kedua orang tuanya, maka Pak Agus dan Ibu Dewi akan cukup terbantu di hari tuanya. Memang, keadaan ini tidak ideal, tapi dalam hidup segalanya dapat terjadi.

A picture containing outdoor, sunset, silhouette

Description automatically generated

Karena itu, kita harus siap dengan segala kemungkinan yang ada. Dinda sebenarnya bisa memiliki asuransi jiwa dengan premi yang cukup murah, karena usianya masih sangat muda. Jika orang tua Dinda meninggal sebelum Dinda, suami maupun anak Dinda dapat menjadi ahli waris yang baru.

Persiapan untuk Kisah Ketiga

Dalam kisah ketiga, bagaimana pencegahannya? Bencana yang menimpa Wisnu tidak hanya mengorbankan Wisnu, namun juga Ibu dan kakaknya. Siapa yang sangka, bisa sakit sekian lama? Itulah hidup, tidak ada yang tahu pasti.

A group of people swimming

Description automatically generated with low confidence

Untuk kisah ketiga, ada dua pencegahan utama. Kesatu, perlu asuransi kesehatan yang memadai selain asuransi kantor. Mungkin Wisnu mengira, asuransi kantor saja sudah cukup. Perhatikanlah limit asuransi kantor Anda, dan perhatikan kemungkinan yang dapat terjadi pada Anda. Cek artikel ini untuk mengetahui mengapa Anda tetap butuh asuransi pribadi selain asuransi kantor. Bukan berpikir negatif, tapi bersiap-siap sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.

Kedua, Wisnu dapat mempersiapkan asuransi jiwa dengan ahli waris Ibundanya. Memang, Ibundanya punya warisan dari Ayah yang sudah meninggal, tapi nyatanya masih bisa kecolongan toh?

Kesimpulan

Budaya kekeluargaan masih sangat kental untuk orang yang hidup di Indonesia. Menurut hasil Survey Ekonomi Nasional (Susenas) 2017, sebanyak 62.64% lansia Indonesia masih tinggal dengan anak cucunya. Banyak juga orang tua lansia yang hari tuanya dibiayai oleh putra-putrinya. Generasi inilah yang disebut sebagai Generasi Sandwich, terjepit membiayai orang tua dan anak-anak mereka.

Bagi Generasi Sandwich, asuransi jiwa dan kesehatan bisa menjadi solusi ideal.

A picture containing whiteboard

Description automatically generated

Asuransi jiwa maupun kesehatan dapat dengan sangat signifikan mengurangi beban Generasi Sandwich. Siapkan asuransi jiwa untuk semua orang yang bergantung pada Anda secara finansial. Untuk mengetahui asuransi jiwa dengan rate terbaik, hubungi tim konsultan kami segera!

Send Us A Message

error: Content is protected !!
Chat Langsung
Chat Kami di 087774734200
Halo, Anda cari asuransi apa? Kesehatan/ jiwa/ travel/ dsb atau merek tertentu (Generali, Allianz, dsb)?